Jumat, 19 Agustus 2016

Makalah Aliran Psikologi Pendidikan Naturalis

MAKALAH
ALIRAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN NATURALIS
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Bp. Sukarman, M.Pd.I
Description: D:\Logo Unisnu.jpg
Disusun oleh :
1.      Fitri Ratna Sari :       (213048)         
2.      Imam Ghozali :         (213058)
3.      M. Khoirul Anam :   (213084)
Kelas 4 A.2
 


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (PAI)
UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA JEPARA
TAHUN AKADEMIK 2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada nabi besar Muhammad SAW.
            Makalah berjudul Aliran Psikologi Pendidikan Naturalis” ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan.
            Dalam penyusunan makalah ini , tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun , kelancaran dalam penyusunan makalah ini, tidak lepas dari partisipasi berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah berpartisipasi.
            Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis, untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan pembuatan makalah ini.

Jepara, 23 Maret 2015

Penulis






DAFTAR ISI

BAB I                         :           PENDAHULUAN..............................................................1
A.    Latar belakang masalah..................................................1
B.     Rumusan Masalah..........................................................1
C.     Tujuan Penulisan............................................................1
BAB II                        :           ISI........................................................................................2
1.      Aliran Psikologi Naturalis..............................................2
BAB III          :           ANALISIS...........................................................................7
KOMENTAR.......................................................................7
BAB IV          :           PENUTUP............................................................................8
A.                Simpulan..................................................................8
B.                 Saran.........................................................................8
DAFTAR PUSTAKA :..........................................................................................10









BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar  Belakang Masalah.
Aliran Psikologi Pendidikan Naturalis berkaitan dengan Aliran Psikologi Pendidikan Nativisme, Empirisme. Aliran ini pada awalnya berpikiran bahwa anak akan bertumbuh dan berkembang secara alamiah tanpa pengarahan, baik dari orang tua, lingkungan, maupun sekolah. Salahkah setiap orang tua tesebut ? Tentu saja tidak sepenuhnya salah. Sikap seseorang lahir dari pemahamannya tentang suatu hal. Dalam hal ini, orang tua tersebut membesarkan anaknya dengan pemahaman yang telah di yakininya, yakni anak akan bertumbuh dan berkembang secara alami. Dengan kata lain, pemahaman orang tua tersebut sejalan dengan paham naturalisme.

B.     Rumusan masalah.
1.      Apa yang dimaksud dengan Psikologi Pendidikan Tentang Aliran Naturalis ?

C.     Tujuan Penulisan.
1.      Untuk mengetahui Psikologi Pendidikan Tentang Aliran Naturalis







BAB II
ISI
            Dalam pendidikan, aliran naturalisme bersemboyan kembalilah ke alam (back to nature).Paham Naturalisme dipelopori oleh seorang filusuf prancis yang bernama J.J. Rosseaue yang muncul pada abad ke – 18. Nature dalam bahasa latin memiliki makna Alam. Berbeda dengan Schopenhaeuer berpendapat setiap anak yang baru dilahirkan pada hakikatnya memiliki pembawaan baik, namun, pembawaan baik yang terdapat pada setiap anak itu akan berubah sebaliknya karena dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan tersebut dapat berupa lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, atau lingkungan masyarakat sekitar dimana anak tumbuh dan berkembang. Berdasarkan pendapatnya tersebut, aliran ini dikenal dengan sebutan Negativisme.
Selanjutnya Rosseaue mengatakan, anak yang terlahir dengan keadaan baik tersebut biarkan berkembang secara alami. Ini artinya bahwa perkembangan anak yang di pengaruhi oleh pendidikan apakah  di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat sebagai urun rembuk orang – orang dewasa malah akan merusak pembawaan anak yang baik. Hal ini seperti di kemukakan oleh J.J. Rosseaue, yaitu : “segala sesuatu adalah baik ketika ia baru keluar dari alam, dan segala sesuatu akan menjadi jelek manakala ia sudah berada di tangan manusia”.[1]
Dengan demikian, menurut Rosseaue agar seseorang anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, anak tersebut harus diserahkan kepada alam. Kekuatan alam yang akan mengajarkannya kebaikan – kebaikan yang terlahir secara ilmiah  sejak kelahiran anak tersebut. Beragam kebaikan tiu akan terus diserapnya oleh setiap anak yang terlahir, secara spontan dan bebas dari rekayasa orang dewasa.
Rousseau membagi rentang kehidupan individu menjadi lima periode pertumbuhan. Periode pertama ialah masa bayi dan kanak-kanak ( 0 – 5 tahun). periode kedua ialah usia 5 – 12 tahun. periode ketiga adalah usia 12 – 15 tahun. periode keempat ialah usia 15 – 20 tahun. Periode kelima ialah usia diatas 20 tahun.
Pada periode pertama janganlah ada campur tangan orang dewasa terhadap dorongan-dorongan dan tingkah laku alamiah anak. Pada periode kedua, ditekankan pada latihan indera dan fisik melalui pengalaman. Pada periode ketiga, biarkanlah anak mencari dan menemukan untuk dirinya hukum alam dan ilmu pengetahuan. Misal : mengapa musim berganti, mengapa muncul kilat dan petir?. Pada periode keempat, bawalah anak untuk menjalani pengalaman-pengalaman sosial, moral, dan fisik yang penting. Pada periode kelima, arahkanlah manusia dewasa awal ini pada pemilihan teman hidup yang cocok.[2]
Istilah “nature” telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti, mulai dari dunia fisik yang dapat dilihat oleh manusia, sampai kepada sistem total dari fenomena ruang dam waktu.  Natural adalah dunia yang diungkapkan kepada kita oleh sains alam. Istilah naturalisme adalah sebaliknya dari istilah supernaturalisme yang mengandung pandangan dualistik terhadap alam dengan adanya kekuatan yang ada (wujud) di atas atau di luar alam (Harold H. Titus e.al. 1984) Materialisme adalah suatu istilah yang sempit dari dan merupakan bentuk dari naruralisme yang terbatas.  Namun demikian aliran ini pada akhirnya lebih populer dari pada induknya, naturalisme, karena pada akhirnya menjadi  idiologi utama pada negara-negara sosialis seperti Uni Soviet (kini Rusia) dan Republik Rakyat cina (RRI). Matrealisme  umumnya mengatakan bahwa di dunia ini tidak  ada kecuali materi, atau bahwa nature (alam) dan dunia fisik adalah satu.[3]     
Banyaknya pemikiran-pemikiran dari para ahli filsafat masa lampau yang menghasilkan banyak menghasilkan aliran dalam filsafat. Semua aliran yang didasari atas pemikiran yang mendalam tersebut dilatar belakangi oleh banyak faktor yang tidak sama. Diantara sekian banyak aliran filsafat tersebut, satu diantaranya yaitu aliran Naturalisme. Aliran Naturalisme yang telah disebutkan seperti diatas, Naturalisme ini lahir pada abad ke-17 dan mengalami perkembangan pada abad ke-18. [4]
Naturalisme dalam penerapan aliran pembelajaran atau pendidikan mengajarkan bahwa guru paling  alamiah dari seorang anak adalah kedua orang tuanya. Dimensi utama dan pertama dari pemikiran aliran Naturalisme di bidang pendidikan adalah pentingnya pendidikan itu sesuai dengan perkembangan alam. Manusia diciptakan dan ditempatkan di atas semua makhluk, karena  kemampuanya dalam berfikir. Peserta didik harus dipersiapkan kepada dan  untuk TUHAN. Untuk itu pendidikan yang signifikan dengan pandanganya adalah Pendidikan ketuhanan, budi pekerti dan Intelektual. Pendidikan tidak hanya sebatas untuk menjadikan seseorang mau belajar, melainkan juga untuk menjadikan seseorang lebih arif dan bijaksana. endidikan bagi penganut paham naturalis perlu di mulai sejak jauh hari sebelum proses pendidikan dilaksanakan. Sekolah merupakan dasar utama keberadaan aliran naturalisme dalam pembelajaran karena belajar merupakan sesuatu yang natural,oleh karena itu fakta bahwa hal itu memerlukan pengajaran juga merupakan sesuatu yang natural juga.  Paham naturalisme memandang guru tidak mengajar subjek, melainkan mengajar murid.
Terdapat  5 (lima) tujuan pendidikan paham naturalisme yang sangat terkenal yang diperkenalkan Harbert Spencer melalui esai-esainya yang terkenal berjudul “Ilmu Pengetahuan Apa Yang Paling Berharga?” Kelima tujuan itu adalah:
1)      Pemeliharaan diri
2)      Mengamankan kebutuhan hidup
3)      Meningkatkan anak didik
4)      Memelihara hubungan sosial dan politik
5)      Menikmati waktu luang
Spencer juga menjelaskan 6 (enam) prinsip dalam proses pendidikan beraliran naturalisme. Delapan prinsip tersebut adalah:
1)      Pendidikan harus menyesuaikan diri dengan alam
2)      Proses pendidikan harus menyenangkan bagi anak didik
3)      Pendidik harus berdasarkan spontanitas dari aktivitas anak
4)      Memperbanyak ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dalam pendidikan
5)      Pendidikan dimaksudkan untuk membantu perkembangan fisik, sekaligus otak
6)      Praktik mengajar adalah seni menunda
7)      Metode intruksi dalam mendidik menggunakan cara induktif
8)      Hukuman dijatuhkan sebagai konsekuensi alam akibat melakukan kesalahan. Kalaupun dilakukan hukuman, hal itu harus dilakukan secara sistematik.[5]
            Naturalisme memiliki pandangan bahwa setiap anak yang lahir didunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan mulai rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga aliran naturalisme sering disebut negativisme.
            Neturalisme memiliki tiga prinsip tentang proses pembelajaran, (M. Arifin dan Aminuddin R., 1992:2).
a.       Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan perkembangan dirinya secara alami.
b.      Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator atau narasumber yang menyediakan lingkungan yang mampu mendorong kepribadian anak didik ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Tanggung jawab belajar terletak pada anak didik itusendiri.
c.       Program pendidikan disekolah harus di sesuaikan dengan minat dan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar mengajar yang berorientasi kepada pola belajar anak didik. Anak didik secara bebas diberi kesmpatan untuk menciptakan lingkungan belajarnya sendiri sesuai dengan minat dan perhatiannya.[6]
Dengan demikian, aliran naturalis menitik beratkan pada strategi pembelajaran yang bersifat paedosentris, artinya : faktor kemampuan individu anak didik menjadi pusat kegiatan proses belajar megajar secara mandiri.















BAB III
ANALISIS
Aliran naturalisme memandang bahwa manusia diciptakan agar dapat belajar dan berfikir untuk kembali kepada penciptaNya, dalam hal ini implikasi di dunia nyata bahwa proses pendidikan dilakukan dengan berafiliasi kepada prinsip keTuhanan. Implikasi di bidang pendidikan terhadap aliran naturalisme memandang bahwa sekolah merupakan hal utama yang akan mengembankan proses belajar tiap peserta didik untuk dapat menemukan dan mengembangkan kepribadiannya dengan memperhatikan kerakteristik dan perkembangan alam yang ada.      Kelebihan utama aliran ini indi adalah penghargaannya yang tinggi terhadap alam , termasuk anak yang lahir secara alamiah akan cenderug baik. Paham ini bisa melahirkan manusia-manusia yang  demokratis, sebab segala sesuatu dikembalikan pribadi masing-masing.
KOMENTAR

Harapan kami setelah membaca makalah ini adalah semoga setelah membaca makalah ini pembaca dapat meningkatkan rasa iman kita kepada Allah SWT.
Dan kita bisa memilih mana perkembangan yang baik untuk anak. Pada dasarnya semua merupakan teori, yang teori itu pasti memuat menar dan salah.
Jangan terpaku hanya pada satu teori, namun perbandingkanlah teori yang kira kira benar. Karena setiap teori ada sisi positif dan ada sisi negativ.





BAB IV
A.    PENUTUP

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah kepada allah swt, penulisan makalah ini dapat diselesaikan, walaupun dalam keadaan yang sangat sederhana dan waktu yang singkat.
Kami menyadari bahwa kami tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan, dan kami juga sadar dalam makalah ini masih jaauh sempurna. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun tetap kami harapkan.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini berguna dan bermanfaat bagi penulis, pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Hanya kepada Allah SWT penulis berserah diri, semoga segala langkah dan aktivitas kita semua diridhai oleh Allah SWT. Semoga kita bisa mendapatkan kebahagiaanya hidup di dunia dan akhirat.  Amiiiiiin.

B.     SIMPULAN
Istilah “nature” telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti, mulai dari dunia fisik yang dapat dilihat oleh manusia, sampai kepada sistem total dari fenomena ruang dam waktu.  Natural adalah dunia yang diungkapkan kepada kita oleh sains alam.
Naturalisme dalam penerapan aliran pembelajaran atau pendidikan mengajarkan bahwa guru paling  alamiah dari seorang anak adalah kedua orang tuanya. Dimensi utama dan pertama dari pemikiran aliran Naturalisme di bidang pendidikan adalah pentingnya pendidikan itu sesuai dengan perkembangan alam. Manusia diciptakan dan ditempatkan di atas semua makhluk, karena  kemampuanya dalam berfikir. Peserta didik harus dipersiapkan kepada dan  untuk TUHAN. Untuk itu pendidikan yang signifikan dengan pandanganya adalah Pendidikan ketuhanan, budi pekerti dan Intelektual. Pendidikan tidak hanya sebatas untuk menjadikan seseorang mau belajar, melainkan juga untuk menjadikan seseorang lebih arif dan bijaksana.

C.     SARAN
Kami juga mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca apabila ada kata-kata dan kalimat yang kurang atau bahkan salah penyampaiannya sehingga kedepannya kritikan yang disampaikan dapat menjadi motivasi kami dalam menyelesaikan pembuatan makalah yang lebih baik. Saran penulis kepada pembaca yaitu supaya makalah dapat memberikan sedikit pengetahuan ilmu.

















DAFTAR PUSTAKA
Ukim Komaruddin Sukarjo, Landasan Pendidikan Konsep Dan Aplikasinya, PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995).
http://Sang Pembelajar Blog  Aliran Naturalisme dalam Pendidikan.htm




[1] Ukim Komaruddin Sukarjo, Landasan Pendidikan Konsep Dan Aplikasinya, (PT Raja Grafindo Persada : Jakarta). Hlm. 25
[2] Ibid., hlm. 27
[3] ZuhIRINI, DKK., Filsafat pendidikan islam, (jakarta: bumi aksara, 1995,) hlm. 62
[4] http://Sang Pembelajar Blog  Aliran Naturalisme dalam Pendidikan.htm
[5] http://Sang Pembelajar Blog  Aliran Naturalisme dalam Pendidikan.htm
[6]Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995).hlm. 63
ANTARA ISLAM DAN MANUSIA

          Islam agama kita yang telah diperjuangkan oleh Rosul Junjungan manusia telah tergoda oleh budaya. Islam yang dianggap sebagai agama yang tenang sedikit  demi sedikit telah terusik oleh arus zaman yang semakin gila. Iman yang menjadi modal utama, dan menjadi kunci dari segalanya telah seakan tiada arti, iman manusia telah menipis seperti kaca yang rentan dengan pecah dan akan menggores jika tidak hati-hati. Iman manusia telah tergoda dengan syaitan yang menjelma menjadi keindahan dan seperti menjanjikan surga.  Padahal telah tertulis dalam Al-Qur’an
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷Š$# Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$Ÿ2 Ÿwur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Arßtã ×ûüÎ7B ÇËÉÑÈ  
 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS2:208)
          Telah benar – benar tertulis dalam Al-Qur’an bahwa syaitan adalah musuh yang nyata, artinya syaitan adalah musuh yang benar – benar ada yang akan terus mengusik iman manusia.
          Berbagai persoalan yang ada di dalam masyarakat saat ini salah satu penyebabnya adalah karena krisis keberagamaan manusia. Berbagai persoalan yang muncul seperti kejahatan, kriminal, korupsi dan lain-lain menunjukkan bukti tidak adanya kesesuaian antara identitas agama dengan perilaku manusia. Sehingga agama banyak dianggap orang sebagai simbol identitas diri untuk sama dengan yang lain, atau didalam islam sering diberi julukan “Islam KTP”. Keberagamaan masyarakat sekarang kita terkadang adalah keberagamaan yang buta, karena mereka begitu saja menyerap doktrin-doktrin yang belum jelas dan tidak pasti tanpa disaring terlebih dahulu. Maka tak heran jika banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di dalam agama utamanya masyarakat.
          Persoalan semakin bertambah dengan adanya budaya barat yang masuk ke relung masyarakat melalui berbagai media yang ada dan semakin canggih, seperti televisi, internet, dan media cetak utamanya adalah melalui media sosial yang sekarang ini sedang booming dikalangan masyarakat. Budaya yang masuk ini tidak sesuai dengan nilai islam, namun justru banyak digemari oleh masyarakat. Perkembangan globalisasi  secara tidak langsung telah mengubah kondisi masyarakat saat ini. Masyarakat terbentuk sebagai masyarakat yang berpola kehidupan materialis dan individualistik. Manusia hanya memandang dan tenggelam oleh kesenangan semata, mereka tidak memperdulikan nilai agama, yang dicari hanyalah kesenangan dunia.
          Kata Islam bermakna berserah diri dan untuk patuh pada Allah, islam juga berarti selamat. Artinya, kehidupan seorang islam adalah bentuk penyerahan diri pada Allah, dan jika kita sepenuhnya patuh pada-Nya maka Allah akan menjamin keselamatan untuk manusia. Islam mengatur bagaimana hubungan antara Tuhan, manusia dan alam semesta. Nilai-nilai yang terkandung dalam islam sangatlah lengkap dan lebih dari cukup untuk mengatur kehidupan manusia. Segala perilaku dalam kehidupan manusia telah diatur dalam kerangka Al-Qur’an dan Hadist. Adanya Al-Qur’an dan hadist merupakan sebagai pedoman hukum islam yang dimaksudkan supaya perilaku manusia tidak melenceng dengan apa yang diajarkan oleh islam. Karena sesungguhnya manusia mempunyai bakat untuk melakukan kerusakan di atas muka bumi, dan kerusakan di atas muka bumi adalah karena ulah tangan manusia. Padahal dihadapan Allah, manusia adalah khalifah yang mengatur  kelangsungan kehidupan, baik kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan bernegara karena manusia lah yang mempunyai tanggung jawab untuk mengelola dunia. Manusia bisa menjadi insan kamil ketika ia mampu menggunakan akal dan budinya sesuai kesadaran illahi.  Namun sebaliknya juga bisa menjadi lebih rendah dari hewan ketika ia mengabaikan akal dan budinya.
          Sebagai seorang kaum muslimin, manusia harus menjadi contoh dalam penerapan nilai – nilai luhur islam  seperti yang telah diajarkan oleh Nabi. Nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an itulah yang benar-benar menjadi tujuan dan diterapkan dalam kehidupan kebudayaan manusia. Dan untuk menggapainya, manusia bisa menggunakan di berbagai jalan, apakah itu ekonomi, politik, tradisi dan lain sebagainya.
          Nah, sistem ekonomi yang saat ini di dominasi oleh sistem Barat merupakan jurang yang terlalu lebar antara kaum miskin dan orang kaya. Sistem ini mengakibatkan persaingan yang tanpa ampun. Seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia akan menang tanpa memperhatikan nilai etis manusia. Jika hal ini terus terjadi, mungkin kekacauan akan terus terjadi. konsep ekonomi berkeadilan marupakan prinsip yang bukan hanya memikirkan keuntungannya sendiri, namun juga harus memikirkan orang lain. Maka disinilah islam harus menyuarakan dirinya.
          Pembangunan masyarakat harus dilakukan secara menyeluruh dan seimbang antara material dan karakter individu. Yaitu membangun manusia lalu membentenginya dengan moralitas  dan perilaku yang baik. Manusia harus senantiasa melatih perilaku, mendidik diri, dan mengsi jiwanya dengan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh islam. Nilai luhur itu antara lain, persaudaraan, cinta kasih, harga diri, menghormati orang lain, dan kebaikan terhadap sesama manusia. Manusia harus membentengi dan memperkuat iman mereka sekuat mungkin, agar tidak mudah goyah dan tergoda oleh kebudayaan yang membuat mereka melenceng dari kebudayaan islam. Jika melihat kebudayaan barat yang sedemikian, kalau diterapkan dalam kehidupan kita, niscaya corak kehidupan dan kebudayaan kita akan berubah. Prinsip-prinsip yang selama ini menjadi pegangan masyarakat akan runtuh.
          Maka butuh ilmu pengetahuan yang juga berdasarkan dengan prinsip-prinsip islam. Ilmu pengetahuan yang berdasarkan prinsip keislaman adalah ilmu pengetahuan yang berguna bagi pembangunan manusia, selain juga untuk mendekatkan diri pada Allah, sehingga kebudayaan peradaban yang islami dapat  tercapai.
          Sebagai umat islam yang baik dan mempunyai iman, maka perlu lah kita membentengi iman kita dari peradaban yang tidak baik, manusia juga harus pintar-pintar menilai budaya yang masuk dalam islam. Berhati-hati dan tetap menerapkan nilai-nilai luhur islam adalah salah satu cara, namun tetap menjadikan Al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman dalam hidup kita.

Text Box: Fitri Ratna Sari
(131310000761/213048)
5 PAI A.2