“PERAN PEREMPUAN
MENJADI IBU”
Menjadi “Ibu”
dan “Perempuan” itu tidaklah ringan. Menjadi “Ibu” itu menjadi
tantangan yang sangat berat, terutama ketika kepentingan personal dan ambisi
personal berseteru dengan apa yang mungkin kebanyakan orang ‘kodratkan’.
Terkadang, istilah “kewajiban nafkah” itu menjadi kata sakti yang
membuat ibu harus menahan laju kayuh sepedanya atau istilahnya adalah “istri
sholehah” atau istri yang taat pada imamnya. Kesemuanya itu adalah selubung
normatif untuk tidak mengatakan vulgar bahwa “surga” perempuan itu ada di rumah
bersama keluarganya.
Terkadang
sistem yang ada pun memaksa seseorang perempuan untuk menjadi aktifis pasif
yang mungkin akan sangat yang mungkin akan sangat merepotkan jika harus di
libatkan. Sistem pendidikan dasar kita yang mau tidak mau memaksa seorang ibu
sebagai pengurus logistik anak – anaknya, sementara sang ayah akan dapat secara
bebasnya berkiprah sejauh apapun melangkah. Bisa kita bayangkan, bahwa kegiatan
antar – jemput anak sekolah, secara tidak langsung banyak menyita waktu kaum
ibu, terutama para ibu – ibu muda. Sekolah TK – SD – MI, yang rata – rata
berakhir pada pukul 10 – 11.00 atau maksimal pada waktu Dhuhur selesai,
sehingga tidak memberikan sedikitpun rang untuk seorang ibu bisa lebih
produktif baik dalam bentuk income maupun aktualisasi diri. Yang
terkadang sangat di sayangkan adalah banyak dari mereaka – mereka yang berlatar
belakang prestasi gemilang pada masa sekolahnya atau masa kuliahnya, yang pada
akhirnya kemudian keniscayaan domestik menjarah segala potensi yang
dimilikinya, sehingga potensi diri tidak dapat di tularkan dalam masyarakat
sekitarnya. Setidaknya, jika ada kelonggaran jam sekolah untuk anak didik
mereka, misalnya dengan Sistem Sekolah Nasional dijadikan full day
semuanya, sehingga para ibu ini tidak merasa khawatir untuk bsa tetap produktif
dan putra – putri mereka pun aman terjaga dengan baik oleh para guru mereka di
sekolahan.
Namun pada
kenyataannya hanya orang – orang yang mapan yang dapat menyekolahkan putra –
putrinya di sekolah – sekolah full day. Lantas bagaimana dengan para ibu
kebanyakan ? hingga saat ini angka pengangguran kita masih di dominasi oleh
kaum perempuan, dan hal tersebut wajar sekali, karena lagi – lagi ada tekanan
normatif yang menjelma menjadi suatu kepercayaan yang mendalam. Sehingga pada
kenyataannya hal itulah yang memenjarakan mereka, ditambah lagi dengan
resistensi patriarkis mainstream yang senantiasa beranggapan bahwa lajunya
perempuan itu akan mengancam superioritasnya ebagai laki-laki. Anggapan bahkan
guyonan bahwa “jika istri bekerja jangan harap ada yang membuatkan kopi atau
ada yang membuat masakan,” rasanya menjadi suatu hal yang lumrah, sehingga
saya berkonklusi bahwa ambisi perempuan itu racun dan meracuni, karena seringkali
untuk mewujudkannya tidak jarang, ia harus memaksa dirinya untuk keluar dari penjara “rasa sayangnya” pada
keluarganya.
Lajunya –
laju, kencangnya berlari, tidak jarang menepi, berhenti atau terhenti. Tidak
jarang ketika ada kesempatan melaju kembali, mungkin usia sudah tidak lagi
produktif dan sang ibu selalu disibukkan dengan reproduksi, yang bisa jadi
menyita seluruh sisa usianya dan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Jangan bicara “balasannya
surga” karena bagi saya kebaikan di balas dengan surga itu sudah
keniscayaan janji Tuhan kepada makhluknya. Tapi mengapa tidak bicara neraka
ketika ketimpangan ini ada di sekitar kita dan kita tidak dapat berbuat apa –
apa untuk dapat memberdayakan mereka, menjadi perempuan tangguh yang setidaknya
dapat mengurangi persentase pengangguran perempuan.
Nur
Faizin & Fitri Ratna
Jepara,
13 Desember 2015. Pukul : 21.18 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar