Jumat, 19 Agustus 2016

Artikel Perempuan

“PERAN PEREMPUAN MENJADI IBU”

          Menjadi “Ibu” dan “Perempuan” itu tidaklah ringan. Menjadi “Ibu” itu menjadi tantangan yang sangat berat, terutama ketika kepentingan personal dan ambisi personal berseteru dengan apa yang mungkin kebanyakan orang ‘kodratkan’. Terkadang, istilah “kewajiban nafkah” itu menjadi kata sakti yang membuat ibu harus menahan laju kayuh sepedanya atau istilahnya adalah “istri sholehah” atau istri yang taat pada imamnya. Kesemuanya itu adalah selubung normatif untuk tidak mengatakan vulgar bahwa “surga” perempuan itu ada di rumah bersama keluarganya.
          Terkadang sistem yang ada pun memaksa seseorang perempuan untuk menjadi aktifis pasif yang mungkin akan sangat yang mungkin akan sangat merepotkan jika harus di libatkan. Sistem pendidikan dasar kita yang mau tidak mau memaksa seorang ibu sebagai pengurus logistik anak – anaknya, sementara sang ayah akan dapat secara bebasnya berkiprah sejauh apapun melangkah. Bisa kita bayangkan, bahwa kegiatan antar – jemput anak sekolah, secara tidak langsung banyak menyita waktu kaum ibu, terutama para ibu – ibu muda. Sekolah TK – SD – MI, yang rata – rata berakhir pada pukul 10 – 11.00 atau maksimal pada waktu Dhuhur selesai, sehingga tidak memberikan sedikitpun rang untuk seorang ibu bisa lebih produktif baik dalam bentuk income maupun aktualisasi diri. Yang terkadang sangat di sayangkan adalah banyak dari mereaka – mereka yang berlatar belakang prestasi gemilang pada masa sekolahnya atau masa kuliahnya, yang pada akhirnya kemudian keniscayaan domestik menjarah segala potensi yang dimilikinya, sehingga potensi diri tidak dapat di tularkan dalam masyarakat sekitarnya. Setidaknya, jika ada kelonggaran jam sekolah untuk anak didik mereka, misalnya dengan Sistem Sekolah Nasional dijadikan full day semuanya, sehingga para ibu ini tidak merasa khawatir untuk bsa tetap produktif dan putra – putri mereka pun aman terjaga dengan baik oleh para guru mereka di sekolahan.
          Namun pada kenyataannya hanya orang – orang yang mapan yang dapat menyekolahkan putra – putrinya di sekolah – sekolah full day. Lantas bagaimana dengan para ibu kebanyakan ? hingga saat ini angka pengangguran kita masih di dominasi oleh kaum perempuan, dan hal tersebut wajar sekali, karena lagi – lagi ada tekanan normatif yang menjelma menjadi suatu kepercayaan yang mendalam. Sehingga pada kenyataannya hal itulah yang memenjarakan mereka, ditambah lagi dengan resistensi patriarkis mainstream yang senantiasa beranggapan bahwa lajunya perempuan itu akan mengancam superioritasnya ebagai laki-laki. Anggapan bahkan guyonan bahwa “jika istri bekerja jangan harap ada yang membuatkan kopi atau ada yang membuat masakan,” rasanya menjadi suatu hal yang lumrah, sehingga saya berkonklusi bahwa ambisi perempuan itu racun dan meracuni, karena seringkali untuk mewujudkannya tidak jarang, ia harus memaksa dirinya untuk keluar  dari penjara “rasa sayangnya” pada keluarganya.
          Lajunya – laju, kencangnya berlari, tidak jarang menepi, berhenti atau terhenti. Tidak jarang ketika ada kesempatan melaju kembali, mungkin usia sudah tidak lagi produktif dan sang ibu selalu disibukkan dengan reproduksi, yang bisa jadi menyita seluruh sisa usianya dan menjadi pahlawan  tanpa tanda jasa. Jangan bicara “balasannya surga” karena bagi saya kebaikan di balas dengan surga itu sudah keniscayaan janji Tuhan kepada makhluknya. Tapi mengapa tidak bicara neraka ketika ketimpangan ini ada di sekitar kita dan kita tidak dapat berbuat apa – apa untuk dapat memberdayakan mereka, menjadi perempuan tangguh yang setidaknya dapat mengurangi persentase pengangguran perempuan.  





                                                                 Nur Faizin & Fitri Ratna





                                                 Jepara, 13 Desember 2015. Pukul : 21.18 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar