IBU
HARUS TERUS BERSEKOLAH
“The Mother’s heart is child’s school,” (Henry
W. Beecher). Hati ibu adalah tempat sekolah anak-anaknya.
Hati yang dimaksud bukanlah hati yang berupa fisik, tapi hati yang memancarkan
kasih sayang, tempat bersemayamnya sifat keibuan. Banyak argumen yang
berpendapat bahwa “Naluri keibuan akan tumbuh sendiri ketika seorang wanita
akan mempunyai seorang buah hati atau telah menjadi seorang ibu.” Naluri
keibuan ini menjadi bagian penting dalam proses mendidik anak-anak. Ketika
seorang ibu menyusui bayinya, dengan mendekapnya penuh penuh kasih sayang,
sesungguhnya ia telah memberikan pendidikan tentang bahasa kasih sayang. Ini
akan membuat sang anak mampu menyayangi lingkungannya, membuatnya mampu menjadi
manusia yang berbudi pekerti dan bernurani. Perasaan terlindungi dan disayangi
inilah akan menjadi dasar perkembangan emosi bayi yang stabil. Genetika seorang
ibu juga memengaruhi tingkat kecerdasan seorang anak, maka lewat ibu lah
seorang anak akan mengenal rasa, mengenal warna, mengenal kata, dan mengenal
dunia. Sehingga dari titik inilah pembentukan karakter seorang anak dimulai;
membentuk pandangan hidup dan nilai-nilai dalam hidup anak.
Namun,
maraknya fenomena ibu yang tega membunuh, membakar, membuang, menyiksa bahkan
tega menjual anaknya sendiri akhir-akhir ini setidaknya telah membukakan mata
bahwa naluri keibuan ternyata belum cukup menjadi modal sebagai orang tua
masakini. Hal ini karena anak zaman sekarang berbeda dengan persoalan yang
dihadapi anak pada zaman dahulu. Oleh karena itu menjadi seorang ibu harus
memiliki pengetahuan pengasuhan dan ketrampilan yang selalu up to date.
Selain memiliki pengetahuan pengasuhan, orang tua harus mempunyai ketahanan
hidup dalam menghadapi bebagai persoalan hidup yang kompleks. Bagaimana mungkin
kepribadian anak dan kualitas anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik apabila
orang tua tidak mempunyai wawasan dan ketrampilan yang baik sementara persoalan
zaman sekarang ini semakin kompleks?
BELAJAR
MENJADI IBU
Bertanggung
jawab mengasuh anak sejatinya tidaklah milik ibu semata, ayah juga mempunyai
peran yang sama dalam mengasuh dan
mendidik anaknya. Namun, kedekatan
emosional ibu dan anak sejak dalam kandungan dahulu membuat ibu memiliki peran
penting dalam mengasuh anak. Ibu lebih peka terhadap anaknya ketimbang ayah.
Maka hal inilah yang menjadi bekal seorang ibu untuk memberi nasihat, kritik,
saran dan pengajaran kepada anaknya. Ibu
berkewajiban membesarkan anaknya secara fisik yaitu pengasuhan yang menitik
beratkan pada kesehatan organ tubuh anak, dan ibu juga berkewajiban membesarkan
anak secara psikologis yaitu pengasuhan yang memfasilitasi psoses pertumbuhan
dan perkembangan psikologis anak sesuai dengan fase perkembangannya. Pergeseran
posisi ibu rumah tangga mengakibatkan bergesernya pula peran ibu dalam
pengasuhan anak. Pada umumnya ibu rumah tangga lebih banyak terjun dalam
pengasuhan anak daripada seorang ibu pekerja, yang biasanya menitipkan
pengasuhan anaknya kepada orang lain.
Terkait
dengan hal – hal diatas, maka menjadi penting bagi ibu untuk belajar menjadi
seorang pendidik atau guru. Bersekolah adalah sebuah hal yang penting bagi para
orang tua, khususnya ibu. Namun sekolah
disini tidak hanya duduk manis dibangku dan mengikuti jenjang
kurikulum-kurikulum, namun belajar dengan berkaca dari berbagai pengalaman hidup
lalu menghikmatinya, ini juga termasuk
proses bersekolah. Ditambah lagi dengan
zaman sekarang yang serba up to date, kalau ibu tidak terjun langsung
untuk memperoleh informasi yang digenggam anaknya, maka ibu akan ketiban
masalah, karena seorang ibu harus tau segala sesuatu yang dialami oleh anaknya.
Ibu harus mengawasi informasi ang diperoleh anak, karena khawatirnya anak
tersebut akan memperoleh informasi negatif.
Maka
menjadi seorang ibu harus segera bergerak cepat untuk mengetahui ketidak
tahuannya mereka dalam soal pengasuhan. Seorang ibu harus belajar banyak
tentang bagaimana dirinya memainan perannya sebagai seorang ibu. Karena hal ini
sangat menentukan masa depan anak-anaknya. “ Dalam aktifitas pengasuhan, selalu
ada perbedaan antara teori dengan kenyataan. Untuk menjembatani hal ini, maka
seorang ibu harus “Belajar”.” Menurut salah satu pakar psikologi zaman yang
semakin berkembang saat ini memerlukan sosok ibu yang cerdas dengan segenap
pengetahuannya. “jika orang tua dulu dapat sukses (tanpa belajar) dalam
mendidik anak-anaknya, orang tua zaman sekarang justru sebaliknya. Mereka
dituntut untuk lebih tanggap terhadap perkembangan zaman yang sangat
memengaruhi pribadi anak-anaknya.”
Menjadi
ibu yang baik bukanlah suatu yang kodrati, melainkan yang dipelajari. Karena
itu, seorang ibu harus terus meningkatkan kapasitas diri. Menambah wawasan
adalah suatu keharusan, sehingga otak terus menerus di-update. Bentuknya
bisa apapun, bisa dengan sekolah tinggi, sekolah formal, sekolah informal,
aktif mengikuti majlis ta’lim, mendengar
ceramah atau talkshow di tv dan radio, membaca buku dan sebagainya.
Membaca buku masih menjadi hal yang tidak
boleh ditinggalkan ibu – bu dalam mengasuh anaknya. Isu psikologi anak,
manajemen keluarga, kesehatan, perkembangan teknologi, pendidikan anak dan keluarga,
keperempuanan, menjadi tema-tema yang menarik untuk terus dikaji. Kebanyakan,
peran perempuan yang semakin bertambah seiring profesinya yang berganti status
dari istri menjadi seorang ibu, membuat perempuan seringkali merasa malas atau
capek untuk belajar. Meski hal ini
wajar, namun perempuan/ ibu harus memikirkan kembali apa yang akan dilakukan ke
depan. Seorang ibu yang menempuh
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi jangan sampai bertujuan untuk
memperoleh pekerjaan yang lebih tinggi. Orang jepang tidak memandang pendidikan
tinggi sebagai sarana mencari pekerjaan semata, namun lebih kepada menfungsikan
dirinya bagi kehidupannya.
Maka,
memperluas informasi dan meningkatkan kapasitas diri merupakan hal yang penting
dilakukan oleh seorang perempuan/ibu. Mereka harus menyadari bahwa membaca
adalah proses untuk menjadi tahu guna meningkatkan kualitas diri. Ibu harus
selalu up to date untuk memperoleh suatu informasi, agar ibu mampu
mengasuh anaknya dengan baik dan bisa menerapkan metode pengasuhan dan
pembelajaran yang tepat kepada anak seiring dengan berkembangnya zaman. Sebab
sekali lagi, “menjadi ibu yang baik bukanlah semata proses kodrati melainkan
sebuah pembelajaran terus menerus dan dibutuhkan proses informasi yang tiada
henti.”
“
Didiklah anak – anakmu dengan pola Pendidikan yang berbeda
Dengan
pola Pendidikan yang kalian dapatkan
Karena,
Karena,
Sesungguhnya
mereka itu dilahirkan untuk
Zaman
yang berbeda dengan Zamanmu.”
( Umar
bin Khattab )
>Fitri Ratna Sari <
Tidak ada komentar:
Posting Komentar